Minggu, 23 September 2012

Benih Itu Tetap Hidup, Walau Prahara Mengamuk, Bung Karno!

JOHN Perkins, bekas seorang EHM (Economic Hit Man – Pembunuh Ekonomi),  dalam bukunya Confession of An Economic Hit Man  menceritakan  tentang lahirnya “prajurit-prajurit baru,” seperti dia, dalam sebuah  perang tidak kentara untuk menegakkan Imperium baru dunia: Amerika dengan korporasi sebagai  penguasanya.
Ketika pada tahun 1953 Central Intelligence Agency (CIA) akan menjatuhkan Dr. Mohammad Mossadeq, Perdana Menteri Iran yang telah berani menasionalisasi perusahaan-perusahaan minyak asing, mereka (CIA)  cukup mengirimkan agennya, Kermit Roosevelt — cucu Theodore Roosevelt, presiden AS 1901-1909 – yang membawa uang jutaan dollar.

Uang itu dipakai untuk membayar orang agar turun ke jalan, menuntut: Mossadeq turun,  kemudian CIA bisa menaikkan Shah Iran yang sudah terkenal pro Amerika. “Wah, murah sekali dan efektif!” Begitulah pelajaran yang dapat dipetik dari peristiwa jatuhnya Mossadeq. Tak perlu kirim pasukan, tak perlu kirim senjata, tank, kapal terbang. Cuma, ada cumanya, Kermit Roosevelt yang agen CIA itu, kalau tertangkap akan jadi persoalan antar negara; maka sejak itu yang dikirim bukan lagi agen CIA, melainkan  cukup EHM.
Utang dan Asal-Muasal Korupsi
EHM berfungsi pertama-tama untuk membikin korup mereka yang berkuasa. Uang, seks, kekuasaan – itulah “senjata” untuk mengkorupkan orang. Jadi kalau dicari asal-muasal korupsi, yang katanya sudah “membudaya“ itu, inilah sumber yang sebenar-benarnya. Daripada berkuasa seperti jaman dulu,  lebih baik menggunakan kelas yang berkuasa  setempat,  dengan cara  “menyogok,” dijamin: penguasa yang dimangsa itu akan “setia” melakukan apa saja yang dikehendaki sang tuan.
Sudah tentu sebagian besar utang itu balik kepada pemberi utang, untuk membangun infrastruktur, pelabuhan, lapangan udara, pabrik, impor mesin dan lain-lain. Setelah itu terjadilah penjarahan besar-besaran sumber-sumber alam dan tenaga kerja negeri sasaran alias negeri mangsa. Sedangkan utang harus dibayar oleh rakyat.  Jumlahnya begitu banyak, bunganya pun membengkak, hingga negara yang dimangsa tak bisa membayar. Untuk  bisa menyisakan uang cicilan, diturunkanlah seperangkat peraturan IMF dan Bank Dunia – badan yang dipakai untuk memberi utang. Ini berarti dipangkasnya anggaran negara untuk kesehatan, pendidikan dan lain-lain, gaji diturunkan untuk “penghematan.”
Lalu EHM kembali berkata, “kamu tak bisa bayar utang, maka hasil bumi kamu serahkan pada kami, kami mau bikin basis militer, dan lain-lain…dan seterusnya.”  Ada kepala-kepala negara yang tahu betul maksud EHM ini dan tidak mau disogok.  CIA lalu mengeluarkan jurus “lain,” mengirimkan “chakal-chakal,” alias pembunuh-pembunuh. Begitulah Jaime Roldos, presiden Equador dan Omar Torrijos, presiden Panama, mengalami  “kecelakaan,” pesawat yang ditumpangi  meledak.
Saadam Husein juga tidak mau disogok dan  usaha-usaha CIA untuk membunuhnya gagal, karena Saadam pernah bekerja untuk CIA, tahu betul logika CIA dan bagaimana harus membela diri – maka keluarlah jurus “ketiga”:  pasukan, hujan bom, tank-tank diturunkan, peluru-peluru radioaktif dengan uranium yang sudah “dimiskinkan” sebagai senjata  mutakhir tak segan-segan digunakan, dan peluru-peluru ini tidak saja telah membunuh rakyat dan tentara Irak, tapi juga membikin pasukan Amerika sendiri terkena radiasi.  Selain itu, CIA juga menggunakan senjata-senjata yang lebih keji lagi, seperti menyebarkan syphilis, AIDS. Kebetulan, berkat penelian seorang peneliti Amerika, penyebaran syphilis di Guatemala ketahuan. Pada tahun 2001 Amerika terpaksa  secara resmi minta maaf.
Gurita CIA
CIA didirikan pada 18 September 1947, sebagai badan intelijen yang langsung di bawah presiden AS dengan tujuan mengumpulkan dan mengolah  data, informasi. Dengan ditetapkannya Uni Sovyet/komunisme sebagai musuh pertama, CIA bertugas memberi tahu kapan dan di mana Uni Sovyet akan menyerang. Tetapi dalam perjalanannya CIA  berubah menjadi  “negara dalam negara” yang sangat berkuasa, bagai gurita raksasa dengan lengan-lengan kotornya merasuk ke mana-mana: infiltrasi ke partai-partai politik, manipulasi serikat-serikat buruh, mahasiswa, pekerja seni, organisasi-organisasi pemuda dan massa lainnya.
Di mana ada kekuasaan kiri jatuh dan kanan naik, bisa dipastikan ada tangan gurita di situ. Sampai-sampai di hutan-hutan belantara tropis Virunga di Afrika Tengah, Republik Demokrasi Congo, dengan “baju” NGO lingkungan, Dian Fossey Gorilla Fund-International (DFGFI), Amerika menyalurkan dana USAID sebesar US$ 4,6 juta untuk mendanai peperangan di tiga negeri:  Congo, Rwanda dan Uganda.
Environmental Systems Research Institute (ESRI), yang dengan program pemetaan ArcVieuw Software (GIS), ikut membantu DFGFI memetakan keberadaan dan perubahan perilaku, habitat gorilla, species bamboo, (http://www.esri.com/news/arcnews/summer05articles/gis-applications.html). Namun seperti ditulis dalam artikel “Are USAID Gorilla Conservation Funds Being Usen for Covert Operation in Central Africa?,” tujuan mereka sebenarnya bukanlah  membantu rakyat Afrika, bukan pula mengkonservasi hutan-hutan tropis atau gorilla, mereka sama sekali  tidak peduli, yang dicari adalah minyak, emas, kekayaan sumber-sumber alam Afrika.(http://allthingspass.com/uploads/html227USAID%20FUNDING%20GUERILLA%20WARFARE[1].htm).
Perusahaan ESRI ini sekarang membuat portal geospasial Indonesia yang bisa diakses di http://tanahair.indonesia.go.id. Tidak heran kalau banyak orang khawatir bahwa portal itu akan bisa menjadi “pintu untuk mengungkap lokasi pertahanan militer yang dirahasiakan selama ini oleh pemerintah Indonesia.”  (http://tissueone.blogspot.com).
Lahirnya Neoliberalisme
Bersamaan dengan didirikannya CIA,  pada tahun 1947, di Mont Pelerin, di Swiss,  juga diadakan pertemuan 400 tokoh korporasi-korporasi tebesar dunia dengan ahli-ahli ekonomi, yang menelorkan apa yang kemudian disebut sebagai neoliberalisme, dengan Milton Friedman dan Friedrich von Hayek sebagai ahli-ahli ekonomi. Keduanya kemudian mendapat hadiah Nobel (Friedrich von Hayek pada tahun 1974, dan Milton Friedman pada tahun 1976). Mereka menentang peran negara dalam ekonomi, menentang sosialisme, menganjurkan pasar bebas dan lalu-lintas kapital yang bebas. Dua peristiwa yang terjadi setelah Perang Dunia II ini, merupakan langkah-langkah penting di awal perang dingin.
Semangat Konferensi Bandung
Perjuangan rakyat Asia-Afrika-Amerika Latin (AAA) untuk membebaskan diri dari kolonialisme dan terutama berdirinya Republik Rakyat Tiongkok pada tahun 1949,  dan suksesnya Konferensi Asia Afrika (KAA) di Bandung pada April 1955, telah memberi pukulan-pukulan hebat terhadap kekuatan-kekuatan kolonialisme. Konferensi Bandung telah diorganisir oleh Indonesia, Birma (sekarang Myanmar), Sri Lanka, India, Pakistan dan Filipina. Konferensi tersebut  dihadiri oleh pemimpin 21 negara di Asia dan Afrika yang dulunya dijajah, antara lain:  Sukarno, Jawaharlal Nehru (Perdana Menteri India), Gamal Abdel Naser (Presiden Mesir), Zhou En Lai (Perdana Menteri RRT), Ho Chi Minh (Perdana Menteri Vietnam Utara),  Kwame Nkrumah (Perdana Menteri Pantai Emas [Ghana]).
Indonesia menjadi salah satu Negara yang sangat dihormati oleh negeri-negeri non blok. Setelah sukses menyelenggarakan Konferensi Bandung, Indonesia menetapkan UU PA dan UU PBH pada 1960 –dua UU penting untuk memperdalam revolusi Indonesia dengan  melakukan reform-reform agraria. Amerika – yang sudah sejak lama mengincar kekayaan bumi Indonesia dan siap mengganti posisi kolonial Belanda -, melalui CIA  menyokong pemberontakan separatis PRRI/Permesta. Upaya menjatuhkan pemerintah pusat melalui pemberontakan daerah itu ternyata gagal. Maka, dipakailah  jurus “lain” –pembunuhan langsung– yang kemudian dikenal dengan “Peristiwa Cikini”  (1957), juga gagal. Lalu jurus “lain” lagi: fitnah, dibikinlah film cabul, Sukarno berbuat mesum, gagal juga.
Dalam pada itu, Sukarno yang semula berharap mendapat bantuan dari AS lewat John F. Kennedy (JFK), presiden AS, 1961-1963– tak berhasil, setelah JFK ditembak mati. Sukarno pun kecewa, bukan saja gagal memperoleh bantuan dari blok Barat, tapi merasa dihina saat kunjungannya ke Amerika. Ia disuruh menanti lebih dari satu jam di ruang tunggu. “Go to hell, with your aid!,” jawab Sukarno sepulang dari Amerika.
Dengan bantuan Uni Sovyet, termasuk di bidang persenjataan, rakyat Indonesia sukses merebut kembali Irian Barat (1963) dan berniat mengkonsolidasi kemenangan-kemenangan politiknya dengan keberhasilan dalam pembangunan ekonomi. Sukarno semakin dekat dengan Uni Sovyet (Khruscov) dan negeri-negeri sosialis lainnya yang sepenuhnya bersedia membantu pembangunan ekonomi Indonesia. Di dalam negeri hubungan Sukarno dengan PKI juga semakin erat. Maka sejak tahun 1963 Washington memutuskan pemerintahan Sukarno harus tumbang!
Suar Suroso –dalam buku Bung Karno, Korban Perang Dingin– telah dengan panjang lebar menguraikan jatuhnya Bung Karno merupakan salah satu puncak dari perang dingin. Jatuhnya Sukarno juga bisa dikatakan sebagai awal dari munculnya rezim-rezim militer fasis di Amerika Latin – Augusto Pinochet di Chili, Alfredo Stroessner di Paraguay, Jorge Rafael Videla di Argentina – melalui apa yang dinamakan “Operasi Condor.”
“Operasi Condor”
“Operasi Condor,”  yang begitu indah namanya – burung Condor adalah simbol suku Inca yang hidup di Amerika Selatan -, merupakan kerjasama  mengerikan militer negara-negara Amerika Latin. Pada tahun 2003, seorang wartawan Perancis, Marie-Monique Robin membuat film dokumenter  Escadron de la mort, — école française  (“Peleton Maut – didikan Perancis”) yang memperoleh penghargaan dari Senat Perancis sebagai film dokumenter politik terbaik.
“Peleton Maut” adalah pasukan yang menangkapi dan menculik orang-orang pada malam hari; kemudian menyiksa dan membunuhnya. Dalam film itu ia membongkar keterlibatan Perancis  dalam mendidik dan melatih militer Amerika Latin berdasar pengalaman perang kotor di Aljazair – penculikan, penyiksaan, pembunuhan yang kemudian disebut sebagai “Peleton Maut.”
“Operasi Condor”  telah memakan korban puluhan ribu orang yang diculik, dipenjara, disiksa. Seorang yang telah disiksa sampai mati,  atau seorang yang setelah habis-habisan disiksa masih  hidup tapi dianggap tak bisa lagi “diperas informasinya,” diminumi alkohol,  lalu dibuang ke laut dari kapal terbang (“penerbangan maut”). Dalam perang Aljazair, korban-korban itu dengan sinis disebut sebagai crevettes de Massu, yaitu udang-udang Massu (Massu adalah Jenderal Perancis yang berperan besar dalam perang Aljazair).
Benih Itu Tetap Tumbuh
Waktu terus berjalan… Selagi  Indonesia dan Amerika Latin diamuk prahara kediktatoran militer, Uni Sovyet ambruk bersama runtuhnya tembok Berlin.  Lalu orang bertanya-tanya,  apakah cita-cita sosialisme ikut  mati, turut terkubur dalam puing-puing tembok Berlin? Sukarno dijatuhkan, seperti Patrice Lumumba di Congo ditembak mati sebelumnya, seperti  seorang sosialis Salvador Aliende di Chili dibunuh,  diganti dengan Pinochet.  Tapi bagaimana dengan benih-benih yang telah mereka semai?
Di ujung dunia lain,  ada suatu negara kecil, tapi bernyali besar.  Kuba memang tidak hadir dalam Konferensi Bandung tahun 1955, karena memang  belum “lahir.” Pada tahun 1966, Kuba-lah yang mengangkat kembali tinggi-tinggi panji solidaritas AAA yang sudah tak jelas nasibnya, dengan menyelenggarakan Konferensi Trikontinental. Di  dalam Konferensi itu juga hadir wakil dari Indonesia yang rakyatnya sedang bermandikan darah.
Betapa pun kerasnya prahara kanan melanda bumi,  betapa pun kejamnya dan lamanya blokade ekonomi Amerika terhadap Kuba,  dan meski sudah begitu banyak usaha untuk membunuh Fidel Castro – lebih dari 30 kali – Kuba tetap bergeming, kukuh, tak beranjak dari sosialismenya.  Matahari pun terharu, bersinar kembali.
“Tsunami” Kiri
Penderitaan luar biasa yang telah dialami rakyat Amerika Latin akibat diterapkannya ekonomi politik neoliberal – penjarahan besar-besaran atas sumber-sumber alam, pemerasan yang kejam terhadap tenaga kerja, perusakan luar biasa lingkungan suku-suku Indian – telah melahirkan prahara balik, yang disebut  “tsunami kiri.”
Dengan berinspirasikan pada Kuba, pada sosialisme, lahirlah kekuasaan yang berpihak pada rakyat,  dimulai dengan kemenangan   Hugo Chavez di Venezuela (1998), lalu Luiz Inacio Lula da Silva di Brasil (2002), disusul oleh  Nestor Carlos Kirchner di Argentina  yang sifatnya tengah-kiri (2003), Tabarez Vasquez di Uruguay (2004), Evo Morales di Bolivia (2005). Evo Morales adalah  presiden pertama dari suku Indian Aymara, yang merupakan  penduduk mayoritas mutlak di Bolivia. Kemudian muncul  Rafael Correa dengan Revolucion  Ciudadana, yaitu Revolusi Warga di Equador (2006), diikuti kemenangan gemilang Daniel Ortega (2006) di Nicaragua, dipilihnya Ferdinand Lugo, “uskup orang miskin” di   Paraguay (2008).
Dari kelahirannya saja sudah nampak keragaman kiri di Amerika Latin. Setiap negeri punya kekhususannya masing-masing, tapi pada pokoknya musuhnya tetap satu, yaitu korporasi-korporasi besar asing: imperialisme. Sudah tentu jalan untuk melepaskan diri dari korporasi-korporasi multi/trans-nasional yang menggurita itu, perjuangan untuk membangun “sosialismo XXI sieglo” alias sosialisme abad XXI dengan didirikannyna Alianza Bolivariana para los Pueblos de Nuestra América – Tratado de Comercio de los Pueblos (ALBA-TCP) alias “Aliansi Bolivarian Rakyat-rakyat Amerika – Persetujuan Perdagangan antar Rakyat” atau lebih dikenal Aliansi Bolivarien Amerika yang diprakarsai oleh Hugo Chavez, Evo Morales dan Rafael Correa -  tidaklah mulus.
Tidak cukup memberikan konstitusi baru, di mana hak-hak rakyat diperluas: masalah lingkungan, pemuda, perempuan dan hak suku-suku Indian dimasukkan ke dalamnya.  Tidak cukup dengan menasionalisasi bank Venezuela dan menetapkan 3%  dari keuntungan minyak untuk membiayai proyek-proyek sosial. Banyak  “misi sosial” telah dimulai dan terus dijalankan. Kesemuanya menguntungkan rakyat dan karena itu kekuatan rakyat tetap membela Chavez ketika ia mau digulingkan – kudeta 36 jam pada tahun 2002.
Di antara misi-misi sosial tersebut: pembangunan perumahan untuk rakyat, mendatangkan  dokter-dokter  dari Kuba untuk memperbaiki  kesehatan rakyat dan membangun sistem kesehatan rakyat. Tapi tidak cukup  memberikan kesempatan pada 8.000 penduduk untuk operasi mata dan memberikan pengobatan serta santunan bagi  400.000 orang penyandang cacat, sehingga sebagian dari mereka bisa bersekolah dan bekerja.
Tidaklah cukup menyediakan pendidikan gratis, karena harus mendidik tenaga-tenaga pendidiknya agar sesuai dengan kualitas yang diharapkan. Dilaksanakannya reforma agraria juga tidak otomatis bisa meningkatkan produksi pertanian dan meningkatkan taraf hidup petani, karena petani juga membutuhkan dana pinjaman dan peningkatan teknik di bidang pertanian. Masih banyak halangan yang perlu diatasi, termasuk korupsi, termasuk kekerasan.  Dalam pada itu, kekuatan kanan terus mengintai, menunggu kesempatan.
Bulan Juni lalu kaum kanan berhasil menjatuhkan Ferdinand Lugo – presiden Paraguay yang sah – dengan cara licik, melalui apa yang dinamakan “kudeta konstitusional.” Kudeta tersebut dikecam oleh berbagai negara, terutama negara-negara Amerika Latin, termasuk orang-orang kanan. Pemilihan Hugo Chavez di Venezuela pada Oktober depan sangat menentukan nasib perjuangan golongan kiri di Amerika Latin dan usaha bersama mereka  untuk mengintergrasikan ekonomi mereka ke  dalam Pasaran Bersama Mercosur, membangun Banco del Sur, yaitu “Bank Selatan,” bank bersama negeri-negeri Amerika Latin dan membangun transkontinental pipeline – semua dengan tujuan melepaskan diri dari kekuasaan AS, menegakkan kedaulatan politik mau pun ekonomi rakyat.
Masuknya Venezuela dan Bolivia ke dalam Mercosur akan menambah vitalitas Mercosur.  Mengingat pentingnya kemenangan Hugo Chavez dalam pemilihan presiden yang akan datang, Ignacio Lula dengan tegas memberi sokongan kuat pada Chavez, antara lain mendirikan Comite Chavez di Brasil.
Bung Karno telah tiada, tapi benih-benih nasionalisme, cita-cita sosialisme, solidaritas AA -kemudian menjadi  AAA – yang telah disemainya, tetap hidup dan tumbuh di hati rakyat AAA.  Dalam perkembangannya, Indonesia memang jauh tertinggal dibanding Amerika Latin. Bumi tersayang sampai sekarang masih berkutat, belum berhasil  membebaskan dirinya dari belenggu warisan orba.
Tapi percayalah Bung Karno, suatu ketika Indonesia pasti  akan kembali menggabungkan diri ke dalam barisan negara-negara yang menjunjung tinggi  kedaulatan politik maupun ekonominya, kuat mempertahankan sumber-sumber alam serta  lingkungan, dan  teguh dalam membela rakyatnya. Indonesia akan  kembali memainkan peranan yang cemerlang di antara negara-negara yang sekarang tengah berjuang melawan kekuasaan korporasi-korporasi  raksasa dunia: imperialisme.■ ipa
Foto 1 :
Presiden Iran Mahmud Ahmadinejad bersama Presiden Venezuela Hugo Caves bersatu melawan neolib
Foto 2 :
Presiden negara Amerika Selatan bertemu di Rio de Janeiro. Dari kiri ke kanan: Rafael Correa (Ekuador), Evo Morales (Bolivia), Luís Inacio Lula da Silva (Brasil), Michelle Bachelet (Chili), Hugo Chavez (Venezuela) e Nicanor Duarte (Paraguay). <indiependen.com>

Tidak ada komentar:

Posting Komentar